Cermin Retak di Lantai 7 Gedung Tua
Bagian 1: Kedatangan
Malam itu, hujan gerimis menetes pelan di atas kaca jendela apartemen 7 lantai yang terletak di pinggiran kota. Aku, Dira, baru saja pindah ke unit 702, sebuah kamar kecil dengan dinding bata ekspos yang masih menyimpan aroma cat lama. Saat menata barang-barang, mataku tertuju pada sebuah cermin tua yang tergeletak di sudut ruangan, tergeletak di atas lantai kayu yang berderak. Cermin itu tidak lengkap; hanya setengahnya yang masih memantulkan cahaya, sisanya retak seakan menelan bayang‑bayang di sekitarnya.
Aku mengangkatnya, mengusap debu dengan kain bekas, dan menaruhnya di dinding sebelah jendela. Suasana seketika terasa lebih dingin, meski radiator masih berderak pelan. Tiba‑tiba, suara ketukan ringan terdengar di dinding sebelah, seperti ada sesuatu yang mengetuk perlahan. Aku menoleh, namun tidak ada apa‑apa. Hanya bayang‑bayang lampu jalan yang menari di kaca.
Bagian 2: Bisikan di Balik Retakan
Malam berikutnya, ketika aku hendak tidur, cermin itu memantulkan cahaya lampu jalan yang berkilau melalui retakan. Di balik pecahan kaca, seolah‑olah ada gambar samar: sebuah lorong gelap berderak, dindingnya berlumuran cat yang mengelupas. Aku mengernyitkan mata, mencoba menafsirkan bentuk itu, namun yang muncul hanyalah kilatan sesaat.
Saat aku menutup mata, terdengar suara berbisik, nyaris tak terdengar: "...kembali...". Aku membuka mata, menatap cermin, namun tidak ada apa‑apa selain bayangan diri ku yang mengelupas pada retakan. Aku menenangkan diri, berpikir itu hanya imajinasi lelah.
Bagian 3: Penelusuran
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menelusuri sejarah gedung itu. Di perpustakaan kota, kutemukan sebuah artikel tua tentang kebakaran yang melanda gedung ini pada tahun 1973. Pada malam itu, sebuah lantai 7 terbakar hebat, menewaskan seorang tukang cat bernama Pak Arif. Katanya, Pak Arif selalu membawa cermin antik milik ibunya untuk menilai hasil catnya, namun cermin itu pecah pada saat kebakaran, dan belum pernah ditemukan lagi.
Aku kembali ke apartemen dengan rasa penasaran yang menggelitik. Sesampainya, cermin retak masih tergantung di dinding, namun kini ada satu retakan baru yang mengalir seperti aliran darah, melintang dari tengah ke tepi. Aku menyentuhnya, dan tiba‑tiba rasa dingin menyusup ke telapak tangan, seakan‑akan cermin itu menghisap energi.
Bagian 4: Suara Dari Dinding
Malam itu, hujan kembali turun deras. Aku terjaga oleh suara gemericik air, namun suara lain juga terdengar: sebuah lagu anak‑anak yang melankolis, terdistorsi, datang dari dalam dinding. "Kembali... kembali..." kembali terdengar, lebih jelas kali ini.
Aku menyalakan lampu senter dan mengarahkan ke cermin. Di dalamnya, bayangan seorang pria tua muncul, mengenakan pakaian kerja yang lusuh, wajahnya tergores luka bakar. Ia menatap lurus ke arahku, mulutnya terbuka seolah ingin berbicara, namun hanya mengeluarkan suara desahan.
Bagian 5: Penemuan Tersembunyi
Aku memutuskan untuk membuka dinding di belakang cermin. Menggunakan perkakas sederhana, aku mengupas lapisan cat yang mengelupas, mengungkapkan sebuah ruang kecil tersembunyi. Di dalamnya terdapat kotak kayu berukir, berisi buku harian berkulit coklat tua.
Buku itu milik Pak Arif. Halaman‑halaman pertama menceritakan kegembiraannya bekerja di gedung itu, namun seiring berjalannya hari, ia menuliskan rasa takutnya pada "sesuatu" yang muncul setiap malam di lorong belakang. Pada halaman terakhir, ia menuliskan: "Cermin ini menahan suaranya. Aku tidak tahu bagaimana, tapi setiap retakan mengikatnya. Jika kau menemukan ini, jangan pernah menatapnya pada tengah malam."
Bagian 6: Puncak Ketegangan
Malam berikutnya, jam menunjukkan pukul 00.00. Aku terjaga, tidak dapat tidur. Keingintahuan mengalahkan rasa takut. Aku menyalakan lilin, mengarahkan cahaya ke cermin. Pada saat jarum jam menembus angka dua belas, retakan pada cermin berdenyut seperti berdenyut nadi.
Suara berbisik menjadi lebih keras, "...kembali...". Aku menutup mata, namun rasa dingin tetap menggelayuti punggungku. Ketika membuka mata, bayangan pria tua itu tidak lagi di dalam cermin, melainkan berdiri tepat di belakangku, menatap lurus ke mata.
Aku terdiam, napas terhenti. Ia mengangkat tangannya, menunjukkan arah ke dinding. Di sana, sebuah celah kecil terbuka, mengeluarkan cahaya pucat. Dari celah itu, muncul siluet-siluet orang lain yang seakan terperangkap, menatapku dengan mata kosong.
Bagian 7: Penutup
Aku menginjakkan kaki ke arah celah, namun tiba‑tiba terdengar suara retakan yang lebih keras, seakan‑olah cermin menelan semua. Cahaya memudar, dan aku terlempar kembali ke lantai, jatuh tepat di depan cermin. Saat aku bangkit, semua kembali normal. Tidak ada celah, tidak ada siluet, hanya cermin retak yang kembali diam.
Aku mengambil buku harian Pak Arif, menutupnya rapat‑rapat, dan menaruhnya kembali ke dalam kotak kayu. Aku menutup pintu ruang tersembunyi, menutup kembali dinding, dan memutuskan untuk mengemas barang‑barangku.
Keesokan harinya, aku menghubungi agen properti, menginformasikan niatku untuk pindah. Mereka mengerti, tanpa banyak pertanyaan, dan mengatur pindahan ke apartemen lain.
Saat menuruni lift, aku menatap kembali ke lantai 7. Cermin retak masih tergantung, menatapku seakan mengingatkan: ada sesuatu yang tidak pernah dapat terlepas dari retakan, menunggu pada malam tanpa cahaya.
Epilog
Buku harian Pak Arif kini berada di perpustakaan kota, menjadi bahan penelitian para arkeolog urban. Cermin retak tetap berada di unit 702, menunggu penghuninya berikutnya. Dan setiap kali hujan turun, suara ketukan ringan kembali terdengar, mengingatkan siapa pun yang mendengarnya bahwa beberapa retakan tidak pernah benar‑benar tertutup.