Horor

Cermin Retak di Lobi Hotel Tua

Bagian 1 – Kedatangan

Hujan turun dengan deras ketika Alya menuruni tangga batu tua menuju lobi Hotel Merpati. Bangunan ini berdiri sejak era kolonial, dengan dinding bata merah yang dipenuhi lumut hijau, lampu gantung kristal yang berkilau lemah, dan karpet merah usang yang menutupi lantai. Alya, seorang peneliti sejarah, datang untuk menyelidiki arsip lama yang konon disimpan di ruang bawah tanah hotel. Saat ia melangkah masuk, aroma tembakau tua dan kayu berlapis minyak menyambutnya, menciptakan atmosfer yang sekaligus menenangkan dan menggelisahkan.

Petugas resepsionis, seorang pria berusia pertengahan lima puluhan dengan rambut putih tipis, menyapa dengan suara serak, "Selamat datang, Nona. Kamar Anda di lantai tiga, nomor 312. Jika ada yang Anda butuhkan, beri tahu kami."

Alya mengangguk, mengesampingkan rasa canggung. Ia mengangkat koper berwarna hitam, melangkah melewati koridor yang dipenuhi lukisan hitam-putih pemandangan kota lama. Setiap langkahnya mengeluarkan bunyi gesek karpet yang menambah keheningan yang menebar di sepanjang dinding.

Bagian 2 – Kamar dan Cermin

Kamar 312 berukuran sederhana, dengan tempat tidur kayu berukir, lemari antik, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang yang diselimuti kabut. Di sudut ruangan terdapat sebuah cermin bulat berbingkai perak yang tampak sudah lama tak dibersihkan. Permukaannya retak‑retak, menyerupai jaring laba‑laba yang halus.

Alya menaruh koper di atas tempat tidur, lalu menatap cermin itu. Di dalamnya, bayangan dirinya tampak terdistorsi, seolah ada sesuatu yang menutup sebagian wajahnya. Ia menggelengkan kepala, menolak rasa tidak nyaman yang muncul. "Mungkin hanya cahaya yang memantul," bisiknya pada dirinya sendiri.

Malam itu, suara hujan terus menimpakan atap, menimbulkan dentingan ritmis yang menenangkan. Namun, saat jam menunjukkan pukul dua belas lewat, terdengar ketukan lembut di kaca jendela. Alya menoleh, namun tidak ada apa‑apa kecuali kabut yang menebal.

Bagian 3 – Bisikan di Cermin

Keesokan paginya, Alya memeriksa arsip di ruang bawah tanah. Ruangan itu dipenuhi rak kayu yang berisi buku usang, peta kuno, dan catatan harian. Di antara tumpukan dokumen, ia menemukan sebuah catatan berwarna kehitaman yang ditulis dengan tinta pudar: *"Jangan pernah menatap cermin pada malam penuh bulan. Ia menahan suara yang tak pernah terucap."

Alya mengangkat catatan itu, mengernyitkan alis. Ia mengingat kembali cermin retak di kamarnya. Saat ia menatap kembali ke dalam cermin, suara bisikan lembut terdengar—seakan ada seseorang yang berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti, namun nada suaranya familiar.

"...kembali... tidak..." bisik suara itu, terdengar seperti gema dari masa lalu. Alya menutup matanya, mencoba mengusir sensasi menakutkan itu, namun bisikan itu terus berlanjut, memancar melalui retakan kaca.

Bagian 4 – Penyelidikan Lebih Lanjut

Malam itu, Alya memutuskan untuk tidak tidur. Ia duduk di kursi kayu, menatap cermin yang masih retak. Ketika bulan purnama muncul di jendela, cahaya putihnya menembus tirai tipis, menyorot langsung ke cermin. Pada saat itulah, bayangan lain muncul di dalamnya—bayangan seorang wanita muda dengan gaun panjang berwarna biru tua, rambutnya diikat rapi, dan tatapan mata yang kosong namun menatap langsung ke arah Alya.

Wanita itu tidak bergerak, hanya berdiri di dalam cermin, seakan menunggu sesuatu. Alya merasakan hawa dingin mengalir di sekujur tubuhnya, seolah ruangan di sekitarnya menjadi lebih gelap meski lampu tetap menyala. "Siapa kamu?" tanya Alya dengan suara bergetar.

Iklan

Cermin tidak menjawab, namun bisikan kembali terdengar, kali ini lebih jelas: "Aku menunggu... kau harus membantu..."

Alya mengingat catatan di ruang bawah tanah. Ia membuka kembali catatan itu, mencari petunjuk. Di balik halaman yang terlipat, terdapat coretan kecil: *"Jika kau mendengar panggilan, temukan kunci di balik lukisan. Hanya dengan kunci itu, kau dapat menutup suara yang terkurung."

Bagian 5 – Lukisan di Lorong

Alya bergegas ke lorong utama, di mana tergantung sebuah lukisan besar berbingkai emas. Lukisan itu menampilkan pemandangan pelabuhan pada abad ke-19, dengan kapal‑kapal berlayar dan orang‑orang berbusana era kolonial. Pada sudut kanan bawah lukisan terdapat sebuah lubang kecil yang tampak berbeda dari tekstur kanvas.

Dengan hati‑hati, Alya menekan jari di lubang itu. Sebuah kunci besi berkarat terlepas, menggelinding ke lantai. Ia memungutnya, merasakan beratnya yang tidak sepadan dengan ukurannya. Kunci itu tampak cocok untuk gembok kecil di belakang cermin retak.

Bagian 6 – Menutup Suara

Kembali ke kamar, Alya menempelkan kunci ke gembok tersembunyi di balik bingkai cermin. Gembok berderak terbuka, dan pada saat yang sama, suara bisikan berubah menjadi teriakan melengking—seakan ada sesuatu yang terlepas dari penjara kaca.

Cermin mulai bergetar, retakan‑retakannya memancar cahaya merah muda yang lembut. Wanita dalam gaun biru muncul lebih jelas; matanya kini bersinar merah, dan mulutnya terbuka, mengeluarkan kata‑kata yang tak terdengar oleh telinga manusia.

Alya menutup matanya, memejamkan diri, dan memikirkan semua yang ia baca tentang menutup suara yang terkurung. Ia mengangkat tangannya, menyentuh permukaan cermin, merasakan energi dingin mengalir masuk. Perlahan, cermin mulai menghilang, retakan‑retakannya menyatu menjadi satu titik terang yang kemudian menghilang menjadi hitam pekat.

Ketika cahaya itu menghilang, ruangan kembali tenang. Tidak ada lagi bisikan, tidak ada lagi bayangan wanita. Cermin retak kini hanya tersisa sebuah bingkai kosong, seolah-olah tidak pernah ada apa‑apa.

Bagian 7 – Penutup

Pagi harinya, petugas resepsionis kembali menyambut Alya yang tampak lelah namun lega. "Apakah Anda menikmati menginap, Nona?" tanya pria itu.

Alya tersenyum tipis, menatap ruang kosong tempat cermin dulu berdiri. "Saya menemukan sesuatu yang lebih penting daripada arsip yang Anda miliki," jawabnya, lalu berbalik menuju pintu keluar.

Saat ia melangkah keluar, hujan kembali turun, namun kali ini tidak lagi menambah kesedihan. Ia merasa ada beban yang terlepas, seakan suara‑suara yang dulu terperangkap kini bebas menghilang ke udara malam.

Di baliknya, cermin kosong masih berdiri di dinding, menunggu siapa‑siapa yang akan menatapnya kembali, menunggu kisah baru yang belum terungkap.

Iklan