Horor

Koridor Berdebu

Koridor panjang itu terbentang di depanku seperti lidah naga yang menelan cahaya. Aku memasuki bangunan tua itu dengan hati-hati, setiap langkah terdengar nyaring dalam keheningan yang mencekam. Bangunan ini telah ditinggalkan selama puluhan tahun, dan kabar angin tentang kejadian aneh yang terjadi di dalamnya membuat orang-orang di sekitar sini enggan mendekatinya.

Aku memutuskan untuk menjelajahi tempat ini karena rasa penasaran yang tak terbendung. Cerita tentang koridor yang membentang sampai ke bagian paling dalam bangunan, tempat di mana tidak ada yang berani menginjakkan kaki, benar-benar menarik perhatianku. Dengan senter di tangan, aku memulai perjalanan melalui koridor berdebu itu, setiap langkah membuyarkan debu yang menempel di lantai.

Koridor itu dipenuhi dengan pintu-pintu yang tertutup rapat, beberapa di antaranya terlihat seperti belum pernah dibuka sejak bangunan ini ditinggalkan. Aku membayangkan apa saja yang bisa tersembunyi di balik pintu-pintu itu. Apakah itu ruangan kosong, ataukah ada sesuatu yang lebih mengerikan? Setiap pintu yang kulihat membuatku semakin penasaran.

Saat aku berjalan lebih jauh, suara aneh mulai terdengar. Awalnya, itu hanya suara langkah kaki yang terdengar samar, tapi lama-kelamaan, suara itu semakin jelas. Aku merasa tidak sendirian di koridor itu. Aku mempercepat langkah, senter di tanganku bergetar karena genggamanku yang mulai lemah. Suara itu semakin kuat, dan aku bisa merasakan adrenalin yang meningkat di dalam tubuhku.

Tiba-tiba, suara itu berhenti. Keheningan yang tiba-tiba membuatku terkejut. Aku berhenti di depan sebuah pintu yang terlihat berbeda dari yang lain. Pintu ini sedikit terbuka, seperti mengundangku untuk masuk. Aku ragu sejenak, namun rasa penasaran yang kuat mendorongku untuk mendorong pintu itu dan memasuki ruangan di baliknya.

Iklan

Ruangan itu gelap, tapi ketika aku menyalakan senter, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Di dinding ruangan, ada tulisan yang dibuat dengan huruf yang tidak biasa. Tulisan itu berisi pesan yang membuatku menyadari bahwa aku tidak seharusnya datang ke tempat ini. Aku merasa bahwa aku telah mengganggu sesuatu yang seharusnya dibiarkan sendirian.

Aku tahu, aku harus segera keluar dari tempat ini. Aku berbalik dan bergegas menuju pintu, namun ketika aku mencapai koridor, aku menyadari bahwa aku tidak tahu jalan keluar. Koridor yang panjang dan berbelit-belit itu membuatku bingung. Aku mulai berlari, mencari jalan keluar, tapi setiap belokan yang aku ambil hanya membawaku lebih jauh ke dalam koridor.

Akhirnya, setelah apa yang terasa seperti jam-jam berlalu, aku melihat cahaya di ujung koridor. Itu adalah jalan keluar. Aku berlari sekuat tenaga menuju cahaya itu, dan ketika aku melangkah keluar dari bangunan, aku merasa lega. Aku telah berhasil keluar dari koridor berdebu itu, membawa serta rahasia yang tersembunyi di dalamnya.

Namun, ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat sesuatu yang membuatku menggigil. Pintu bangunan itu, yang aku yakin telah kututup rapat, sekarang terbuka lebar, seperti menungguku untuk kembali. Aku tahu, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di koridor berdebu itu lagi.

Iklan