Misteri

Bayangan di Balik Jendela

Malam itu, angin berbisik lewat celah-celah batu bata tua di Kota Lintang. Aku, Raka, penjaga perpustakaan berusia lima puluh tahun, menutup pintu utama tepat pukul dua belas. Hanya suara jam dinding yang menandai berlalunya waktu, sampai tiba-tiba lampu jalan di luar padam, meninggalkan kota dalam kelam yang menebal.

Saat aku menyalakan senter, sebuah catatan tergeletak di meja resepsionis. Tulisan tangan yang terburu‑buruk berbunyi: "Jika kau menemukan buku harian Aria, kembalikan pada bulan purnama. Petunjuk ada di balik jendela nomor tujuh." Aku terdiam. Buku harian Aria, gadis yang menghilang dua puluh tahun lalu, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Petunjuk pertama mengarah ke rak nomor tiga, tempat aku menemukan selembar kertas sobek berisi sebuah pantun: "Matahari terbenam di ujung bukit, kupu‑kupu terbang menukik, temukan kunci di dalam cawan, rahasia terungkap bila kau mengerti." Aku mengernyitkan alis, mengingat ada setumpuk cawan keramik berwarna biru di ruang baca kecil. Di dalamnya, tersembunyi sebuah kunci perak berukir daun ek. Aku menaruhnya di saku, hati berdebar‑debar menanti langkah selanjutnya.

Pantun kedua mengarahkan ke lukisan tua yang menggantung di dinding sebelah kanan. Lukisan itu menampilkan sebuah kebun dengan tiga pohon berbuah merah, masing‑masing diberi angka: 4, 9, dan 2. Di sudut lukisan terdapat catatan kecil yang hampir tak terlihat: "Susun angka sesuai urutan musim, lalu ketuk pintu yang menunggu." Aku menebak bahwa musim berarti urutan bulan; musim semi (Maret), musim panas (Juni), musim gugur (September). Mengganti angka menjadi 3‑6‑9, aku menekan rangka pintu kayu yang tersembunyi di balik rak buku.

Pintu berderit terbuka, mengungkap sebuah ruangan kecil berdebu, dindingnya dipenuhi catatan‑catatan lama. Di tengah ruangan terdapat peti kayu berukir, terkunci rapat. Kunci perak yang kutemukan tadi pas masuk ke lubang kunci. Dengan napas tertahan, aku membuka peti itu.

Di dalamnya, tergeletak sebuah buku kulit coklat usang, sampulnya berdebu. Itu adalah buku harian Aria. Di sampulnya tertulis tanggal 12 Oktober 2004, hari ketika ia menghilang. Aku membuka halaman pertama, menemukan tulisan tangan yang familiar: "Hari ini, aku berjanji tidak akan pernah kembali ke rumah…" Aku melanjutkan membaca, menemukan catatan harian yang berisi detail tentang perselisihan keluarganya, kecemasan tentang sebuah rahasia, dan sebuah kode: "B-7, J‑2, L‑5".

Iklan

Kepala Raka bergetar. Kode itu mengingatkanku pada jendela nomor tujuh yang disebutkan dalam catatan pertama. Aku bergegas menuju jendela besar di ruang atas, yang menghadap ke taman belakang. Jendela itu memang nomor tujuh, berdebu dan berkarat. Di balik tirai, aku melihat sebuah kotak logam kecil tersembunyi di balik bingkai.

Saat membuka kotak itu, sebuah foto lama terjatuh. Foto itu menampilkan seorang pria muda dengan rambut hitam berombak, berdiri di samping Aria. Wajahnya… itu adalah diriku sendiri, pada usia tiga puluh tahun, sebelum kecelakaan mobil yang menewaskan istri dan anakku. Aku tidak pernah mengingat momen itu dengan jelas; hanya kilas balik samar‑samar yang terpotong.

Mataku berkaca‑kaca ketika aku menyadari: buku harian Aria tidak pernah hilang secara misterius. Aku, dalam kebingungan dan rasa bersalah setelah kecelakaan, telah menyembunyikannya di perpustakaan, menuliskan petunjuk‑petunjuk samar untuk menguji diriku sendiri, berharap suatu hari ingatanku kembali dan mengungkap kebenaran.

Aku terdiam, menatap kembali foto itu. Tangan bergetar, kutuliskan kembali kode pada buku harian: "B‑7, J‑2, L‑5". Itu ternyata petunjuk lokasi tiga benda penting: buku harian (B‑7), cawan berisi kunci (J‑2), dan lukisan angka (L‑5). Semua dirancang oleh diriku yang terluka, bukan oleh siapa‑siapa.

Malam itu, lampu jalan kembali menyala, tetapi cahaya yang paling terang datang dari dalam diriku. Aku menutup buku harian Aria kembali ke dalam peti, menutup pintu rahasia, dan menuliskan satu catatan terakhir di meja resepsionis: "Maaf, Aria. Aku menemukanmu, tapi kini kau tetap terpendam di dalam ingatan yang tak bisa kupanggil lagi." Dengan langkah pelan, aku meninggalkan perpustakaan, menyadari bahwa misteri terbesar bukanlah mengungkap siapa yang mencuri, melainkan menerima diri sendiri yang telah menyimpan rahasia paling kelam.

Iklan