Romantis

Bunga Kertas di Pintu Warung Bawah Pohon Mangga

Bab 1 – Pintu Tertutup

Dita menurunkan tas ranselnya di depan warung kecil yang terletak di ujung gang sempit di Kampung Tanjung Bidara. Warung itu tak lebih dari satu ruangan berwarna hijau pudar, dengan papan kayu bertuliskan "Kopi & Cerita" yang hampir terkikis oleh angin laut. Di atas pintu, ada sekuntum bunga kertas berwarna-warni yang menempel dengan lem kuning menguning.

"Selamat sore, Bu," sapa Dita pada pemilik warung, seorang wanita paruh baya bernama Murni, yang sedang menyapu teras sambil mengobrol dengan pelanggannya.

Murni menoleh, senyumannya tergores lelah namun ramah. "Hai, Dita. Sudah lama tidak lihat kamu. Masuk dulu, hujan mulai turun," katanya, sambil mengangkat keranjang plastik berisi roti bakar dan kopi hitam pekat.

Bab 2 – Aroma Kenangan

Saat Dita melangkah masuk, aroma kopi yang kuat menyergap hidungnya, membawa ingatan kembali ke masa kecilnya. Ia ingat bagaimana ayahnya, Pak Jaya, selalu mengantar dia ke warung ini setiap Sabtu pagi untuk membeli roti sagu dan secangkir kopi susu. Di sana, Dita belajar menulis nama-nama teman sekelasnya pada kertas bekas, menempelkan stiker bintang di buku hariannya.

"Kamu mau kopi hitam atau susu, sayang?" tanya Murni sambil menuangkan cairan hitam pekat ke dalam gelas kaca kecil.

"Hitam saja, Bu. Nanti saya mau coba roti kacang," jawab Dita sambil menatap sekuntum bunga kertas itu. Bunga-bunga itu tampak sederhana, terbuat dari kertas tipis berwarna merah, kuning, dan biru, masing-masing menampilkan gambar hati kecil di tengahnya.

Bab 3 – Surat Tak Terbaca

Sambil menunggu kopi, Dita memperhatikan dinding warung yang dipenuhi foto-foto lama. Di sudut paling kiri, ada sebuah foto hitam putih seorang pria muda dengan senyum lebar, memegang segenggam bunga kertas yang sama. Di belakangnya, tertera tulisan "Pak Jaya – 1998".

Dita terkejut. "Bu, ini Pak Jaya?" tanyanya dengan nada berbisik.

Murni mengangguk pelan. "Iya, dia dulu sering datang ke sini. Tapi suatu hari dia pergi ke kota, tak kembali lagi. Bunga kertas itu… dia selalu bawa pulang satu set untuk menaruhnya di pintu warung, katanya supaya kenangan tetap terjaga," jelasnya.

Dita merasakan rasa hangat mengalir di dadanya. Ia teringat pada hari terakhir Pak Jaya mengantar dia ke sekolah, menepuk punggungnya dan berkata, "Jangan lupa, Dita, setiap bunga yang kau temui, jadikan cerita," sebelum melambaikan tangan.

Bab 4 – Hujan di Pintu Warung

Tetesan hujan mulai menetes menembus atap genteng warung, menambah suasana melankolis. Dita menatap keluar jendela kecil, melihat daun kelapa yang bergoyang pelan. Di luar, seorang pemuda bersepeda melaju melewati gang, menurunkan helmnya, dan menatap ke arah warung.

Pemuda itu bernama Rizal, sahabat lama Dita sejak mereka kuliah di Universitas Surabaya. Setelah lulus, Rizal kembali ke kampung untuk mengurus usaha keluarga, sebuah kios jualan ikan bakar di pinggir pantai.

"Rizal!" seru Dita, menurunkan gelasnya. Rizal menghampiri, tersenyum lebar. "Lama tak jumpa, Dita. Aku lihat kamu masih suka ngopi di sini," katanya sambil mengusap rambut basahnya.

Mereka berbincang tentang masa lalu, tentang mimpi yang dulu terukir di hati masing-masing. Rizal bercerita tentang tantangan mengelola kiosnya, tentang bagaimana ia harus menyeimbangkan antara tradisi dan modernisasi. Dita mendengarkan, hatinya tergerak oleh ketulusan sahabatnya.

Bab 5 – Bunga Kertas yang Mengikat

Saat percakapan berlanjut, Rizal memperlihatkan sesuatu di sakunya: satu set bunga kertas yang baru saja ia buat. "Aku belajar membuat ini dari nenekku. Aku pikir… mungkin kau suka," katanya, menyerahkan satu bunga merah ke tangan Dita.

Dita terkejut, namun senyum mengembang di wajahnya. Ia menatap bunga itu, merasakan kehangatan yang sama seperti ketika ayahnya menaruh bunga di pintu warung. "Terima kasih, Rizal. Ini mengingatkanku pada ayahku," bisiknya, suaranya hampir berbisik.

Murni, yang memperhatikan dari belakang meja, menambahkan, "Bunga kertas memang punya kekuatan. Ia mengikat kenangan, menghubungkan hati yang terpisah waktu," katanya sambil menutup buku catatannya.

Iklan

Bab 6 – Janji di Bawah Pohon Mangga

Setelah hujan reda, Dita mengajak Rizal berjalan ke taman kecil di belakang warung, di mana terdapat sebuah pohon mangga tua yang rindang. Di bawahnya, tergeletak bangku kayu usang yang biasa dipakai para warga kampung untuk bersantai.

Mereka duduk, memandangi buah mangga yang mulai menguning. Rizal mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, menutupnya dengan kain batik. "Aku ingin mengajakmu kembali ke kampung ini, Dita. Aku ingin membangun sesuatu bersama, mungkin sebuah kafe kecil di sini, tempat orang bisa duduk, minum kopi, dan mendengar cerita-cerita lama," ujar Rizal dengan mata bersinar.

Dita menatapnya, merasakan detak jantungnya berirama lebih cepat. "Aku… Aku tidak tahu. Aku masih di Jakarta, pekerjaan menuntut. Tapi… aku merindukan rumah, aroma kopi ini, dan… kamu," jawabnya pelan.

Rizal mengangguk, mengerti. "Aku tidak meminta keputusan sekarang. Hanya ingin kamu tahu bahwa pintu warung ini selalu terbuka untukmu. Seperti bunga kertas yang tak pernah layu," katanya sambil menepuk bahu Dita.

Bab 7 – Surat di Balik Bunga

Malam tiba, Dita kembali ke warung. Ia menemukan sebuah surat kecil terlipat di antara bunga kertas merah. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan berwarna biru, mengingatkan pada catatan harian masa kecilnya.

"Dita, kalau kau membaca ini, berarti kau kembali ke tempat asal. Bunga kertas ini adalah simbol kenangan. Simpanlah dalam hatimu, dan biarkan ia tumbuh menjadi cerita baru. — Pak Jaya," tertulis di akhir surat.

Air mata mengalir di pipi Dita, namun bukanlah air mata sedih. Itu adalah air mata kebahagiaan, mengakui bahwa cinta, persahabatan, dan kenangan dapat bersatu dalam satu ruang sederhana.

Bab 8 – Keputusan di Bawah Bintang

Keesokan paginya, Dita memutuskan untuk tidak langsung pulang ke Jakarta. Ia mengambil cuti, menulis surat kepada bosnya, dan memberi tahu bahwa ia akan kembali ke kampung halaman untuk sejenak. Ia menyiapkan koper kecil, menaruh satu set bunga kertas di dalamnya, bersama dengan foto lama ayahnya dan catatan kecil yang ditulis Rizal.

Saat ia menutup pintu warung, Murni mengucapkan selamat jalan dengan senyuman lembut. "Jangan lupa, Dita, setiap kali kau merasa jauh, lihatlah bunga kertas itu. Ia akan mengingatkanmu pada rumah," kata Murni.

Dita melangkah keluar, menatap langit yang kini cerah, memandangi awan-awan yang melayang seperti kelopak bunga. Di ujung gang, Rizal menunggu dengan sepeda tuanya, siap mengantarkannya ke pelabuhan, lalu ke rumah keluarga di tepi pantai.

Bab 9 – Cinta yang Mengalir Tenang

Setelah beberapa minggu di kampung, Dita dan Rizal bekerja bersama membuka kafe kecil di dekat warung Murni. Kafe itu diberi nama "Bunga Kertas". Setiap meja dihias dengan rangkaian bunga kertas buatan tangan, dan dindingnya dipenuhi foto-foto lama, termasuk foto Pak Jaya.

Kafe menjadi tempat orang berkumpul, mendengar cerita lama, dan menciptakan kenangan baru. Dita menemukan kembali semangat menulis, menuliskan kisah-kisah penduduk kampung di buku harian kecil yang selalu ia bawa.

Suatu sore, ketika matahari mulai merunduk di balik gunung, Dita menatap Rizal yang sedang menyapu lantai kafe. "Kau tahu, Rizal, aku dulu takut meninggalkan kota. Sekarang, aku merasa menemukan rumah di mana pun ada bunga kertas," katanya sambil menaruh satu bunga merah di lengan Rizal.

Rizal menoleh, menatapnya dengan mata penuh kasih. "Dan aku, Dita, selalu menunggu hari ketika kau kembali. Karena setiap kali aku menaruh bunga di pintu warung, aku berharap kau akan kembali," balasnya.

Epilog – Bunga yang Tak Pernah Layu

Waktu terus berjalan, namun bunga kertas di pintu warung tetap ada, menunggu hujan atau matahari terbit. Setiap orang yang melewati warung itu akan melihatnya, dan mungkin, mereka juga akan menemukan kisah mereka sendiri di dalamnya.

Dita menutup buku hariannya, menuliskan satu kalimat terakhir: "Cinta, persahabatan, dan kenangan adalah bunga kertas yang tak pernah layu, melayang di antara hujan dan cahaya, menunggu untuk diceritakan lagi."

Iklan