Romantis

Matahari Terbit di Balik Jendela Pagi

Dira menatap jam dinding tua di sudut kafe kecil itu. Detik‑detik berlalu perlahan, seakan menunggu sesuatu. Ia menunggu kopi yang baru saja dipesan, namun yang lebih penting baginya adalah menunggu Arif—seseorang yang ia temui lewat rekomendasi sahabatnya, Rina, yang baru saja pindah ke apartemen di sebelah sana.

Kafe itu terletak di sebuah gang sempit di pusat kota Surabaya, tepat di antara toko kelontong dan warung bakso. Dindingnya dihiasi papan kayu usang, dan aroma kopi robusta menyatu dengan bau roti panggang. Suara radio tua mengalun lembut, memutar lagu pop Indonesia tahun 2000‑an yang membuat Dira mengingat masa-masa SMA.

Arif muncul dengan langkah ringan, membawa tas ransel berwarna cokelat tua. Ia menatap Dira sejenak, lalu tersenyum. "Maaf lama," katanya sambil menaruh tasnya di kursi sebelah. "Lalu lintas macet, dan saya hampir melewatkan jadwal kerja."

"Tidak apa‑apa," jawab Dira, mengangkat cangkir kopi hitam yang masih mengepul. "Kita masih punya waktu." Mereka mulai mengobrol tentang hal‑hal ringan: cuaca, pekerjaan, bahkan tentang kucing liar yang sering berlarian di gang itu.

Arif bekerja sebagai desainer grafis freelance, sering mengerjakan proyek untuk startup teknologi. Dira, di sisi lain, adalah guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah menengah di pinggiran kota. Meskipun bidang mereka berbeda, keduanya memiliki satu kesamaan—keduanya menyukai hal‑hal sederhana yang menenangkan hati.

Mereka berbicara tentang buku favorit. Arif menyebutkan sebuah novel klasik Jawa yang mengisahkan tentang cinta yang terhalang tradisi. Dira tertawa, mengingat dulu ketika ia pertama kali membaca novel itu bersama ayahnya di teras rumah. Kenangan itu mengalir hangat dalam hatinya, menambah rasa nyaman pada pertemuan mereka.

Setelah selesai menikmati kopi, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar pasar tradisional yang berdekatan. Pasar itu dipenuhi pedagang yang menjajakan sayur, buah, dan rempah‑rempah. Aroma bawang putih, cabai, dan jahe menguar kuat, menambah warna pada suasana pagi.

"Kamu pernah coba bakso kuah pedas di sini?" tanya Arif sambil menunjuk sebuah warung kecil.

"Belum," jawab Dira, "tapi kalau ada rekomendasi, aku pasti coba."

Mereka memesan seporsi bakso, duduk di bangku kayu yang berderit. Saat suapan pertama masuk, rasa pedas yang menggigit menggelitik lidah mereka. "Wah, pedasnya pas," kata Arif, mengusap keningnya. Dira tersenyum, menatap mata Arif yang bersinar cerah.

Sore mulai berganti menjadi senja. Langit di atas pasar berubah menjadi warna jingga keemasan, menembus sela‑sela gedung-gedung tua. Dira merasakan sesuatu yang berbeda, seakan ada benang tak terlihat yang menghubungkan hatinya dengan Arif.

"Kita sering lewat sini tanpa pernah berhenti," kata Arif tiba‑tiba. "Mungkin ini saatnya kita melambat sejenak, menikmati hal‑hal kecil yang biasanya terlewatkan."

Dira mengangguk. Mereka berdua melanjutkan berjalan, melewati gerobak‑gerobak yang menjual kerupuk, kue, dan es kelapa muda. Di sebuah sudut, ada seorang ibu-ibu menjual anyaman bambu. Dira tertarik pada sebuah tas anyaman berwarna cokelat muda.

"Bagus sekali," puji Arif. "Aku suka bagaimana tangan‑tangan mereka menciptakan sesuatu yang sederhana namun indah."

Iklan

Dira membeli tas itu, mengingatkan dirinya pada kehangatan masa kecil ketika ibunya mengajarkan cara menenun anyaman. Ia menatap tas tersebut, lalu menatap Arif. "Aku suka cara kamu melihat dunia," katanya pelan.

Arif tersenyum, menunduk sejenak. "Aku juga suka cara kamu menyimpan kenangan."

Malam semakin larut, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Mereka kembali ke kafe, duduk di sudut yang sama. Sekarang, hanya ada satu cangkir kopi yang tersisa—dari pagi tadi—yang masih menghangatkan meja.

"Aku tidak pernah menyangka akan menemukan seseorang yang bisa mengerti keheningan seperti ini," ujar Dira, memandang keluar jendela yang menampilkan lampu-lampu kota.

Arif menatapnya kembali, lalu mengeluarkan sebuah kartu pos kecil yang berisi gambar matahari terbit di atas laut. "Aku menemukan ini di toko buku bekas. Aku pikir ini cocok untukmu," katanya sambil menyerahkannya.

Dira membuka kartu itu, melihat gambar matahari yang perlahan muncul di cakrawala, memancarkan cahaya keemasan. "Terima kasih," bisiknya. "Mungkin ini akan mengingatkanku pada hari ini, setiap kali aku melihat matahari terbit."

Mereka berdua menghabiskan sisa malam dengan berbagi cerita, tawa, dan sesekali diam—diam yang penuh arti. Saat jam hampir menunjukkan pukul dua belas, Dira menyadari bahwa ia tak lagi merasa sendirian di kota besar ini.

"Aku harus pulang," kata Arif, mengumpulkan tasnya.

"Aku juga," jawab Dira, mengangguk. "Tapi... mungkin kita bisa bertemu lagi besok?"

Arif mengangguk, mengeluarkan nomor ponselnya dan menuliskannya di selembar kertas. "Aku senang kita bertemu. Semoga pagi-pagi berikutnya tidak hanya tentang kopi, tapi juga tentang cerita yang kita ciptakan bersama."

Dira menutup mata sejenak, merasakan getaran hangat di dadanya. Ia menyimpan kartu pos itu di dalam tas anyaman barunya, seolah menandakan permulaan sesuatu yang baru.

Ketika ia melangkah keluar dari kafe, udara malam menyentuh wajahnya dengan lembut. Di kejauhan, lampu‑lampu jalan berkelip seperti bintang‑bintang kecil. Dira menatap ke atas, melihat matahari terbit yang belum muncul, namun ia tahu—di balik tiap senja, selalu ada matahari yang menunggu untuk bersinar kembali.

Dan di dalam hatinya, ia menyimpan rasa hangat yang tak pernah ia duga sebelumnya, sebuah rasa yang tumbuh perlahan, seiring dengan setiap pertemuan kecil yang menambah warna pada kehidupannya.

Iklan