Romantis

Rangga dan Simfoni Hujan di Atap Lumbung Tua

Matahari sore masih menempel di pucuk daun kelapa ketika Rangga melangkah perlahan menuruni tangga bambu yang mengarah ke atap lumbung tua milik keluarganya di Desa Cikahuripan. Angin sepoi‑sepoi membelai rambut hitamnya, membawa aroma tanah basah yang baru saja menelan hujan semalam. Di antara jeruji kayu tua, ia menemukan Maya, seorang gadis desa yang baru pindah ke rumah seberang karena pekerjaan di balai desa. Maya sedang menata buku catatan tua yang berisi puisi‑puisi lama kakeknya, sambil menatap langit kelabu yang mulai menebar kilau petir.

"Kau suka hujan?" tanya Rangga sambil menumpuk beberapa jerami kering di sudut atap.

Maya menoleh, senyum tipis mengembang. "Aku suka. Suara rintik‑rintiknya seperti simfoni yang belum pernah kudengar."

Mereka duduk berdampingan, menunggu awan mengeluarkan tetes pertama. Hujan turun perlahan, menetes di atas atap sirap, menimbulkan irama yang menenangkan. Rangga menyalakan lampu minyak yang hampir padam, menebarkan cahaya temaram di antara dedaunan kelapa.

Malam itu, mereka berbagi cerita tentang masa kecil. Maya menceritakan bagaimana ia dulu membantu neneknya menyiapkan gulai ikan di pinggir sungai, sementara Rangga mengingat saat ia memetik kelapa muda bersama ayahnya, menunggu buah jatuh ke tanah.

"Ada satu hal yang selalu kurindukan," kata Maya, menatap kaca jendela yang meneteskan air. "Suara piano di rumah kakek dulu. Dia punya piano tua, tapi sudah tak terpakai lagi."

Rangga mengangguk, mengingat piano tua di ruang tamu rumahnya yang sudah lama tak disentuh. "Mungkin kita bisa menghidupkannya kembali," usulnya.

Maya menatapnya dengan mata bersinar. "Bersama?"

"Bersama," jawab Rangga, memegang tangan Maya erat‑erat.

Keesokan harinya, mereka pergi ke rumah Rangga. Piano antik itu terletak di pojok ruang tamu, debu menutupi tuts‑tutsnya. Bersama, mereka membersihkan, mengelap, dan menyiapkan sarung kain untuk menutupi goresan.

Saat pertama kali menekan tuts, suara berdengung keluar, seakan menantang hujan yang baru saja reda. Maya menutup matanya, membiarkan melodi mengalir ke dalam hati. "Ini seperti menghubungkan kenangan lama dengan masa kini," bisiknya.

Rangga menanggapi dengan senyuman, menambahkan akor‑akor lembut yang menambah kehangatan. Seiring melodi mengalir, mereka merasakan ikatan yang lebih dalam, seakan tiap nada menuliskan cerita mereka di atas lembaran waktu.

Mereka menjadikan atap lumbung sebagai tempat latihan. Setiap sore, ketika hujan kembali menuruni desa, mereka duduk di bawah rintik‑rintik, memetik piano sambil menatap awan kelabu. Suara piano bersatu dengan gemericik hujan, menciptakan simfoni hujan yang hanya mereka mengerti.

Warga desa mulai memperhatikan. Anak‑anak kecil berlarian ke atap, meniru gerakan mereka, sementara para ibu menyiapkan kue lapis legit untuk menemaninya. Suasana menjadi hangat, penuh tawa, dan aroma kopi hitam yang baru diseduh oleh Pak Darto, pemilik warung sebelah, menambah keakraban.

Suatu malam, ketika angin bertiup lebih kencang, Maya mengeluarkan sebuah buku puisi usang yang ditemukan di loteng rumahnya. Di dalamnya terdapat baris‑baris yang ditulis oleh kakeknya: "Hujan menetes, hati berbisik, cinta tumbuh di antara denting piano."

Rangga membaca bersama Maya, suaranya bergetar oleh rasa. "Sepertinya ini tak sekadar kebetulan," katanya. "Mungkin takdir menuntun kita ke sini."

Iklan

Maya menatapnya, matanya berkilau. "Aku tak ingin ini berakhir," bisiknya, mencondongkan kepalanya ke bahu Rangga.

Hari-hari bergulir, dan hubungan mereka semakin dalam. Mereka membantu warga memperbaiki atap rumah yang rusak akibat badai, menyumbangkan hasil panen kelapa, serta mengadakan konsolidasi musik di balai desa. Pada suatu sore, rangkaian musik mereka ditampilkan dalam acara Pesta Hujan desa, menimbulkan tepuk tangan meriah.

Rangga menyiapkan kejutan. Ia menulis lagu khusus untuk Maya, menggabungkan melodi piano dengan suara hujan. Saat malam tiba, di atas atap lumbung yang berkilau oleh lampu minyak, ia memainkan lagu itu. Maya menangis haru, merasakan setiap nada sebagai pelukan hangat.

Tidak lama setelah itu, Maya menerima kabar bahwa ayahnya sakit keras di Kota Padang. Ia harus kembali ke kampung halamannya selama beberapa bulan. Perpisahan terasa getir.

"Aku tak ingin meninggalkanmu," kata Maya, menatap mata Rangga yang basah.

Rangga memeluknya erat, menekan buku puisi ke dadanya. "Cintaku akan tetap di sini, bersama hujan dan piano. Aku menunggu kau kembali," ujarnya.

Maya meneteskan air mata, mengikat selendang merah ke leher Rangga sebagai tanda janji.

Masa-masa terpisah menguji mereka. Rangga terus bermain piano di atap, menuliskan surat‑surat dalam nada, mengirimkan rekaman ke Maya melalui WhatsApp. Maya membalas dengan foto-foto hujan di Padang, menuliskan harapan mereka pada tiap tetes air.

Suatu hari, ketika hujan deras mengguyur Cikahuripan, Rangga menemukan surat di antara jerami: "Aku kembali, sayang. Aku bawa kakekku, piano kecil, dan harapan untuk hidup bersama selamanya."

Maya tiba di desa dengan koper penuh kenangan. Ia membawa piano kecil yang dulu dimiliki kakeknya, serta bunga melati yang selalu disukai Rangga. Kedatangan Maya disambut sorak gembira warga, yang merayakan kebersamaan mereka.

Di atap lumbung, mereka menata piano kecil di samping piano tua, menciptakan duet yang memukau. Hujan kembali turun, namun kali ini tidak lagi sekadar melodi, melainkan lagu cinta mereka.

Matahari terbit menampakkan warna oranye keemasan di antara awan kelabu. Rangga menatap Maya, menyiapkan cincin perak yang terbuat dari anyaman kelapa. "Aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku selamanya," katanya.

Maya mengangguk, mengucapkan "Ya" dengan suara bergetar. Cincin melingkar di jari Maya, bersinar seperti tetesan hujan pagi.

Sejak saat itu, atap lumbung tua menjadi saksi bisu cinta mereka. Setiap kali hujan turun, suara piano bersatu dengan rintik‑rintik, mengalun seperti simfoni abadi. Warga desa menganggap mereka sebagai simbol harapan, bahwa cinta dapat tumbuh di antara tetesan air, debu, dan nada‑nada yang menyentuh hati.

Rangga dan Maya menatap masa depan bersama, memegang tangan erat, menunggu hujan berikutnya, dan menuliskan cerita mereka pada setiap lembaran waktu yang belum terisi.

Iklan