Cermin Retak di Lobi Tua
Lina menurunkan koper beratnya ke lantai kayu yang berderit pelan. Hotel Grand Aurora tampak megah di luar, namun aura usang menguasai setiap sudutnya. Selama tiga hari perjalanan kereta api melintasi hutan lebat, ia tak menyadari bahwa kamar yang dipesan sudah lama kosong, menunggu penghuni baru yang tak pernah datang.
Saat ia menekan tombol lift, suara berderak mengiringi gerakan pintu yang lambat terbuka. Lampu neon berkelap‑kelip, menyorot dinding berwarna krem yang dipenuhi lukisan lama—wajah-wajah berkerut yang menatap kosong. Di ujung koridor, sebuah lobi besar terbuka, dikelilingi kursi kulit usang dan meja kayu yang penuh debu. Di tengahnya, berdiri sebuah cermin besar berbingkai kayu hitam, retak‑retak seolah menembus ruang.
"Selamat datang," suara lembut terdengar dari belakang, namun tak ada orang di sana. Lina menoleh, menemukan seorang pria berjas abu‑abu, wajahnya samar dalam cahaya redup.
"Saya manajer, Pak Danu," katanya sambil mengangguk. "Kamar Anda sudah siap. Silakan istirahat dulu, nanti kami siapkan kunci."
Lina mengangguk, menatap cermin. Retakan‑retakan menyerupai jala‑jala halus, menembus permukaan kaca. Ia mendekat, melihat bayangan dirinya yang tampak lebih pucat, mata yang tampak berkilau dalam gelap. Saat ia mengangkat tangan, bayangan di cermin menirukan gerakannya, namun dengan senyuman tipis yang tidak ada pada wajah Lina.
"Apakah Anda baru pertama kali di sini?" tanya Pak Danu, suaranya kini terdengar seperti bisikan.
"Ya, saya hanya lewat," jawab Lina, mencoba menahan rasa aneh yang menggelayuti tubuhnya. "Hotel ini… tampak seperti masih ada yang tinggal di dalamnya."
"Kami memang memiliki sejarah panjang," Pak Danu mengangguk. "Tapi jangan khawatir, semuanya aman. Cermin itu memang tua, dulu milik pemilik pertama. Katanya, cermin itu menyimpan… kenangan."
Lina mengerutkan dahi. "Kenangan?"
"Ya, cerita lama tentang seorang wanita yang menghabiskan malamnya menatap cermin, mencari sesuatu yang tak pernah ia temukan. Orang bilang, bila kau menatap terlalu lama, kau akan melihat apa yang kau cari—tapi bukan yang kau inginkan."
Pak Danu mengangkat bahu, lalu berbalik pergi. Lina menatap kembali cermin, kini retakan‑retak tampak berdenyut seperti denyut nadi. Ia memejamkan mata, mencoba mengalihkan pikirannya pada suara angin yang menembus celah jendela.
Tiba‑tiba, terdengar ketukan halus pada kaca. "Tik… tik…" suara itu berirama, seolah menunggu. Lina membuka mata, menatap cermin. Di dalamnya, bayangan dirinya kini berdiri di sebuah ruangan gelap, dikelilingi oleh pintu‑pintu kayu yang terbuka setengah. Di atas satu pintu, tulisan berwarna merah kusam terbaca: Masuklah, jika berani.
Tanpa sadar, Lina mengulurkan tangan menuju kaca. Saat jari‑jari menyentuh permukaan retak, rasa dingin menyusup ke kulitnya, menembus tulang. Ia terkejut, menarik tangan kembali, namun bayangan di cermin tetap menatapnya, mata hitamnya berkilau.
"Lina…" bisik suara yang tidak bisa ia kenali, seakan memanggil dari dalam.
Lina menoleh ke arah pintu masuk, namun koridor telah berubah. Lampu gantung yang dulu berkilau kini berpendar redup, menimbulkan bayangan menari di dinding. Dari sudut lobi, terdengar suara langkah kaki yang berat, tetapi tak ada siapa‑siapa yang tampak.
Dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, namun setiap langkah terasa seperti melayang di atas kabut. Pintu kamar yang dulu tertutup rapat kini terbuka lebar, mengundang dengan cahaya temaram. Di dalam, tempat tidur berbalut selimut berwarna ungu tua, dan di sampingnya, sebuah kotak kayu kecil terletak di atas meja.
Lina membuka kotak itu dengan hati‑hati. Di dalamnya terdapat sebuah surat usang, tinta pudar, dan sebatang lilin hitam yang belum pernah menyala. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang bergetar: Jika kau menemukan cermin ini, ketahuilah bahwa kami menunggu. Jangan biarkan cahaya menghalangi jalanmu.
Lina merasakan jantungnya berdegup kencang, namun rasa penasaran mengalahkan ketakutan. Ia menyalakan lilin, dan seketika api kecil menari, menimbulkan cahaya yang memantul pada cermin retak.
Cermin itu kini bersinar, menampakkan bayangan‑bayangan baru. Di antara retakan‑retakan, muncul siluet seorang wanita bergaun putih, rambutnya terurai panjang, menatap lurus ke arah Lina. Wanita itu mengangkat tangannya, seakan menawarkan sesuatu.
"Ikuti aku," bisik wanita itu, suaranya melengking seperti angin malam.
Lina merasakan tarikan tak terlihat, memaksanya melangkah menuju cermin. Begitu ia menyeberang batas kaca, dunia seakan terhenti. Ia berada di ruangan yang sama seperti di dalam cermin—gelap, berderit, dengan pintu‑pintu kayu yang menanti.
Tanpa sadar, ia membuka pintu pertama. Di dalamnya, ruangan dipenuhi foto‑foto hitam‑putih, menampilkan wajah‑wajah orang yang tampak kebingungan. Setiap foto memiliki tanggal di sudut kiri atas, semuanya berjarak satu hari, mulai dari tahun 1923 hingga 1931. Pada foto terakhir, seorang wanita muda berdiri di depan cermin yang sama, dengan senyum melengkung yang menakutkan.
Lina menutup pintu, berbalik, dan menemukan dirinya kembali di lobi hotel. Namun, cermin kini tidak lagi retak, melainkan bersih sempurna, memantulkan gambar Lina yang tampak tenang. Pak Danu muncul lagi, namun kali ini wajahnya berubah menjadi kabur, seolah terbuat dari asap.
"Kau sudah melihatnya," katanya. "Kini kau mengerti mengapa cermin ini tidak pernah dibuang. Setiap orang yang menatap terlalu lama, akan menjadi bagian dari koleksi kami."
Lina menelan napas, merasakan air mata mengalir. "Apa yang harus kulakukan?"
"Kembalikan cahaya," jawab Pak Danu, sambil mengulurkan lilin hitam yang kini berubah menjadi lilin putih bersinar. "Biarkan cahaya menembus retakan, sehingga kenangan yang terperangkap dapat terlepas."
Lina menyalakan lilin putih, dan cahaya yang keluar meluas, menembus setiap retakan pada cermin. Secara perlahan, bayangan‑bayangan di dalamnya menghilang, meninggalkan ruang kosong yang tenang. Suara langkah kaki yang berat menghilang, dan koridor kembali menjadi terang seperti semula.
Saat cahaya mencapai tepi cermin, terdengar suara tawa kecil, lembut, hampir tidak terdengar. "Terima kasih," bisik suara itu, kemudian menghilang bersama debu‑debu kecil yang terbang di udara.
Pak Danu tersenyum, kini wajahnya kembali jelas. "Kau telah menyelamatkan hotel ini dari beban masa lalu. Cermin itu kini bebas, dan kami—" dia menatap sekeliling, "—kami semua dapat beristirahat."
Lina mengangguk, merasakan beban berat yang selama ini mengganjal di dadanya melunak. Ia melangkah keluar dari lobi, menatap langit senja yang mulai berwarna oranye. Angin membawa aroma bunga melati, menenangkan hati.
Di belakangnya, lobi tampak bersih, tanpa retakan, tanpa bisikan. Hanya satu cermin berdiri, memantulkan pemandangan luar, seakan menunggu cerita baru yang akan datang.
Lina melanjutkan perjalanannya, meninggalkan hotel dengan perasaan damai. Namun, di dalam tasnya, lilin putih masih menyala perlahan, mengingatkannya bahwa kadang‑kadang, menatap ke dalam diri dapat membuka pintu‑pintu yang tak terduga—dan bahwa cahaya, sekecil apapun, selalu mampu menembus kegelapan paling pekat.